Sering kita mendengar dan menyebutkan bahwa Al-Quran itu adalah mukjizat Nabi Muhammad. Mukjizat nabi-nabi sebelum Muhammad bertendensi sesuatu yang ajaib dan luar biasa atau irrasional dalam persepektif kita dimasa kini, misalnya terbelahnya laut merah, membangkitkan orang yang sudah mati, tidak terbakar oleh api, berbicara saat bayi, mengeluarkan unta dari batu, ditelan dan dimuntahkan kembali oleh ikan, tidur berabad-abad dalam gua, memindahkan istana dalam sekejap mata, memerintah dan berbicara kepada jin, hewan dan sebagainya.

“Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?” (Al Baqarah 106)

Dalam berbagai tafsir disebutkan bahwa maksud ayat tersebut adalah kejadian-kejadian ajaib (menurut perspektif kita saat ini) adalah sunatullah yang awam terjadi di zaman-zaman Rasul terdahulu yang kemudian diganti-Nya menjadi sesuatu yang lebih baik yaitu sunatullah yang sekarang ini yaitu sesuatu proses alamiah yang seperti sekarang ini kita rasakan sehari-hari.Bahwa Allah tidak lagi mengajarkan atau memberitahukan kepada Muhammad tentang Nama-NamaNya atau ajaran-ajaran yang dapat mendatangkan Mukjizat itu. Tetapi melalui Al Quran dan Muhammad, Allah mengajarkan sesuatu yang membuat manusia dengan akal pikirannya sendiri memilih secara sadar untuk menyembah Allah Yang Maha Esa. Sehingga orang yang menolak kebenaran Allah, Muhammad dan Al Quran disebut sebagai orang yang membohongi diri sendiri dan membelakangi kebenaran.

Dalam bukunya yang berjudul Al Quran, Bibel dan Sains, Maurice Bucaille menuturkan betapa Al Quran sangat tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan, bahkan secara menakjubkan AlQuran telah secara tegas menyebutkan berbagai fenomena alam yang baru beberapa abad kemudian ditemukan baik oleh para ilmuwan timur atau barat. Hal inilah disebutnya sebagai salah satu bukti keotentikan bahwa Al Quran itu merupakan Wahyu Allah dan bukan buatan manusia.

Dan Allah kemudian memberikan mukjizat kepada Muhammad yaitu Al Quran untuk mengalahkan musuh-musuh Allahdan membangun peradaban tauhid. Allah tidak memberikan kepada Muhammad kemampuan yang aneh dan kejadian yang luar biasa kepada Muhammad selain dalam proses turunnya Al Quran itu sendiri dan perintah shalat (yaitu dalam peristiwa isra’ mikraj, yang sempat mengguncangkan iman beberapa sahabat karena dianggap irrasional/mustahil). Selain itu kehidupan, perjuangan dan pemikiran Muhammad adalah layaknya manusia modern seperti sekarang ini. Luka dan berdarah, sakit dan sembuh, kalah menang, sedih dan tertawa, bersahabat dan dikhianati..

Al Quran adalah mukjizat dan pertolongan Allah (yang sangat dekat) kepada Muhammad dan ummatnya. Allah memberikan petunjuk, kabar, metodologi, enigma, fenomena, nomena, sejarah, stratregi, identifikasi, sience, hukum, logika dan lain lain kepada Muhammad melalui ayat demi ayat kepada Muhammad agar Muhammad dapat secara sistematis membebaskan ummat manusia dari penindasan, penghisapan, kejahatan manusia lainnya dan membangun peradaban.

Al Quran adalah mukjizat karena dengan hanya mengandalkan itu sebagai manual booknya (panduan) Muhammad dapat membalikkan keadaan dan berhasil membangun peradaban tauhid yang paling humanis dan cemerlang dalam sejarah kemanusiaan dalam waktu yang sangat singkat. Al Quran yang turun kepada Muhammad juga adalah mukjizat untuk kita juga, kualitas mukjizatnya tidak berkurang sedikitpun.

“Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa” (QS An Nuur 34)

Hanya saja untuk dapat menggunakannya dan menjadi mukjizat maka kita harus meningkatkan kualitas dan kapasitas seperti Muhammad, luar dan dalam. Kita harus berakhlak, berfikir, bertindak seperti beliau baik secara formal maupun secara hakiki dengan berpedoman pada As Sunnah. Insya Allah kita akan berhasil membalikkan keadaan dan membangun peradaban Islam yang kecemerlangannya harus menggantikan peradaban bobrok yang dibangun imperium kafir yang ada sekarang ini.

Masalahnya sekarang ini adalah, kita semakin menjauhkan Al Quran dari kehidupan kita sehari-hari. Jauh dari sekolah, rak-rak buku perpustakan pribadi dan umum. Kita menjauhkan Al Quran daripendidikan moderen perkotaan dan kini menjadi kurikulum tradisional pedesan. Kita menjauhkan Al Quran dari bacaan sehari-hari orang yang hidup dan telah menjadi bacaan disaat kematian. Kita melantunkan Al Quran di perkuburan. Kita melagukan Al Quran bukan membacanya sebagai manual berkehidupan. Al Quran bukan lagi untuk orang yang hidup tapi sudah jadi buat orang yang sudah mati, yaitu bagian dari ritus kematian.

Ini semua adalah hasil dari proses sistematis yang luar biasa berhasil dari imperium-imperium jahat yang anti persamaan dan kebebasan. Imperium yang ateis, rasis, kapitalis dan ekspansis. Imperium putra putra kabil, yaitu Firaun, Karun dan Haman.

Mengembalikan Al Quran menjadi bacaan setiap hari yang kita pahami, kita fikirkan dan kita praktekkan adalah kunci keberhasilan kita. Maka dengan demikian Al Quran pun menjadi mukjizat kita juga melawan imperium-imperium kafir yang beganti ganti wajah sejak kabil, namrud, nero, ramses, firaun, quraisy, heraklius, hitler, lenin, stalin dan kini cobalah lihat di abad modern ini ataupun disekeliling kita siapakah sosok penindas orang-orang mukmin itu. (bush dan sekutunya?)

Banyak kita yang sangat mensakralkan Al Quran sehingga kita takut membacanya, dengan alasan bahwa kita cuma orang awam dan bukan ulama. Seakan-akan yang berhak membacanya hanyalah orang suci. Kita takut menyentuh dan membuat coretan dan catatan-catatan dilembaran-lembarannya saat membacanya. Luar biasa racun orientalis (ilmuwan penyesat) itu merasuki otak kita untuk memisahkan kita dengan Al Quran. Sehingga Al Quran kita berdebu dirak rak buku dan kotak kotak penyimpanannya.

Padahal kalau kita baca saja tanpa tahu artinya kita sudah dapat pahala zikir. Apabila kita membaca artinya maka kita dapat pahala menuntut ilmu. Apabila kita memahami makna dan konteksnya dalam kehidupan maka kita mendapat pahala derajat yang mendekati derajat para rasul. Apabila kita mengabarkan pesan-pesanNya kepada u

mmat maka kita adalah sang pembawa risalah. Jika kita mempraktekkannya maka kita adalah waliyullah. Jika kita berjamaah mengamalkannya maka kita adalah khalifah. Jika menegakkan Tamaddun atas dasarnya maka kita adalah rahmatan lil alamin. Jika pribadi cemerlang kita adalah fakta, bukti yang nyata bahwa itu adalah produk dari Al Quran dan Islam maka kita adalah Sang Syahid (Syuhada).

“Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu orang-orang Shiddiqien dan orang-orang yang menjadi saksi (syuhada) di sisi Tuhan mereka. Bagi mereka pahala dan cahaya mereka. Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka.” (QS Al Hadiid 19)

2018-10-29T19:40:38+00:00