”Dan (kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” (QS An Nisaa’ 164).

Musa AS adalah nabi yang paling banyak kisahnya diriwayatkan dalam Al-Quran. Mungkin Allah SWT memang menjadikan Musa sebagai inspirasi bagi Muhammad dan kita dalam menegakkan Islam. Keistimewaan Musa antara lain bahwa Allah secara langsung bercakap-cakap dengannya sehingga beliau disebut juga sebagai Kalimullah.

Dari sekian banyak peristiwa penting dalam kisah Musa dan hijrahnya bangsa Israil, maka dalam tulisan ini khusus saya akan coba menguraikan peristiwa Musa di kader oleh Kidhr AS sebagaimana yang difirmankan dalam QS Al Kahfi 60 – 82. Ada beberapa point yang perlu kita ingat dalam ayat-ayat itu yaitu sebagai berikut :

* Musa mencari Kidrh bersama seorang muridnya Yusya bin Nun. Disini harus menjadi kesadaran bagi kita semua bahwa sangat penting bagi kita untuk membimbing seseorang (kader) walaupun disaat itu kita sendiri masih perlu bimbingan dari orang lain. Walaupun kader kita itu terkadang membuat kita khilaf dan tergoda setan.

* Sabar adalah syarat yang ditetapkan oleh Kidrh jika Musa ingin menimba ilmunya. Ilmu Kidhr sangat spesifik, yaitu ilmu hikmah. Akhir-akhir ini pengertian tentang ilmu hikmah ini mengalami degradasi. Seakan-akan hikmah itu baru kita ketahui setelah peristiwa itu terjadi. Banyak ayat dalam Al Quran menyatakan bahwa para nabi selain diberikan Al Kitab juga diberikan ilmu hikmah. Ilmu itulah yang menjadi bagi para nabi dalam menjelaskan makna Al Quran dan konteksnya dalam pembangunan peradaban. Inilah ilmu tertinggi yang harus bisa dicapai seorang muslim, yaitu ilmu yang dapat melihat apa yang akan terjadi, antisipasi dan solusinya dan yang paling penting adalah bagaimana menemukan inti kebenaran-Nya.

Selanjutnya dalam proses belajar ini kita semua sudah mengetahui kisah yang populer itu yaitu sebagai berikut :

Yang pertama, Kidrh melobangi perahu yang ditumpanginya. Dengan alasan bahwa ”Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera” (QS Al Kahfi 79)

Adapun yang menjadi penafsiran saya terhadap peristiwa ini adalah Perahu itu adalah simbol alat produksi rakyat miskin. Yang hanya mampu menghasilkan hanya untuk melanjutkan kehidupan. Alat produksi masyarakat miskin tidak pernah bermaksud untuk berubah menjadi kapitalisme (alat pengumpul modal dan penghisapan sumber daya). Tetapi jumlah alat-alat ekonomi kerakyatan itu jika di total akan melampui modal dari seluruh kapitalis manapun, dan yang lebih penting dia tahan banting. Tahan dengan aksi teror moneter, tidak terkait dengan penguasaan kapitalis global seperti yang telah ditunjukkan oleh UKM di Indonesia saat krisis moneter dulu. Dengan bertahannya alat produksi rakyat maka bertahan pula negeri-negeri dari penjajahan kapitalis global.

Hal itulah yang menyebabkan para Karun, Firaun dan Haman secara terus menerus berusaha melakukan take over dan akusisi tehadap alat-alat produksi oarng miskin. Sehingga orang miskin tergantung dengan dan konsumtif dengan hasil produk mereka. Orang miskin menjadi tidak independent dan menjadi buruh di pabrik mereka yang akan dibayar murah.

Data menunjukkan bahwa setiap tahunnya 8 trilyun rupiah dana rakyat di pedesaan dihisap ke Jakarta melalui pipa-pipa kapitalisme yang bernama Bank ***. Dana tersebut hanya 10% dikembalikan lagi ke pedesaan dalam kredit, yang tentu saja melalui prosedur berlapis dan bunga komersial. Tapi ironisnya, dana milik desa itu dengan mudah dikemplang konglomerat hitam dengan bisnis fiktif di Jakarta.

Lihatlah bagaimana strategi Mahatma Gandhi memerdekakan India, caranya adalah dengan tidak membeli kain produksi tekstil dari Inggris tetapi adalah menenun sendiri kain mereka dengan alat yang dioperasikan oleh tangan dirumah tangga mereka. Saat itu rakyat India menjadi semakin miskin karena pakaian mereka tergantung dari produk impor. Tindakan ini memukul industri tekstil Inggris, karena konsumen terbesar mereka saat itu adalah India. Tindakan kedua Gandhi adalah membuat garam dapur sendiri, yang juga dengan tekhnologi sederhana, hal ini juga menimbulkan pukulan terhadap Inggris. Gandhi menunjukkan kepada Imperium Inggris bahwa orang India lah yang mampu mengontrol India bukan Inggris.

Dalam ilmu Kidrh, jika kapitalisme masuk desa dan lingkungan kita maka kita harus segera melindungi alat produksi rakyat kita dari akusisi yang selalu mengiming-imingkan keuntungan – tapi yang lebih sering proses take over itu berlangsung dengan sangat kejam dan biadab. Karena sesungguhnya take over itu akan memiskinkan kita. Menyebabkan kita kehilangan kemandirian dan kebebasan. Lebih baik kita berpura-pura bahwa alat produksi itu rusak, toh khan bisa kita betulkan lagi, coba berlobang sedikit atau idle selama sang kapitalis meruyung-ruyung disekeliling desa. Yang perlu kita lakukan adalah cuma berpuasa beberapa hari sampai raja lalim itu berlalu, mungkin setelah dia bosan melihat kita miskin.

Yang kedua, Kidrh membunuh seorang anak yang dianggap Musa masih berjiwa bersih. Alasan Kidrh adalah ”Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mu’min, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran” (QS Al Kahfi 80)

Saya sering menfasirkan hal ini adalah hal yang menyangkut pendidikan. Anak kaum mukmin yang lambat laun berubah sejalan dengan usia dan pengalaman bahkan dengan secara pasti melupakan asal usul-nya serta secara menyakinkan dapat mendorong orangtua juga ikut kafir dan sesat bersamanya.

Anak-anak adalah masa depan orangtuanya, sanak saudaranya, desa-nya dan negaranya. Kaum mukmin yang merasa dirinya bodoh dan kampungan, merasa perlu menyekolahkan anaknya keluar dari kampung, keluar dari kabupaten, ke jakarta bahkan keluar negeri. Anak-anak kita kemudian dididik dengan orang yang asing dengan kebudayaan asal kita, yang mempengaruhinya dengan tata cara hidup mereka dan peradaban mereka. Terkadang memang kita yang mendorong anak-anak kita agar menjadi lebih moderen dengan parameter asing. Tetapi yang lebih sering ”orang asing” lah yang menjemput anak-anak kita untuk dididik disekolah-sekolah mereka. Kemudian orang asing itu jugalah yang menawarkan posisi kerja di perusahaan-perusahaan mereka yang menggurita di negara dunia kampungan ini. Mereka pun berobah menjadi agen asing yang membantu mereka ”memundurkan” negeri ini.

Anak-anak kita menjadi orang asing, menyesatkan orang tua mereka dengan ilmu manajemen kapitalisme yang mengatakan koperasi adalah kampungan, investasi pada emas dan tanah adalah ketinggalan jaman dan lebih baik berinvestasi pada bursa saham. Anak-anak kita menukar emas dengan uang kertas yang kemudian mengalami inflasi. Kemudian anak-anak asing kita mengatakan bahwa zakat adalah tidak fair karena orang harus mendapat semua hasil dari kerja kerasnya sendiri. Dan semua kekayaannya berasal dari usahanya sendiri.

Coba lihat para Haman negeri kita ini, bagaimana prilaku dan pandangan mereka sebelum dan setelah mereka bersekolah dinegeri-negeri barat. Mereka pulang dan kemudian mengatakan Jihad itu tidak perlu dan ayat-ayat Quran perlu diratifikasi, bahwa Partai Islam No, bahwa kebebasan berekspresi secara bugil juga adalah Hak Azasi. Waria pun bakal punya wakilnya di Komnas HAM. Anak-anak kita yang dididik asing akan berubah menjadi Haman dan mendorong ibu pertiwinya menjadi sesat jalannya dan ingkar dengan agamanya.

Yang ketiga, Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu”. (QS Al Kahfi 77). Yang kemudian di jawab Kidrh dengan alasan yaitu ”Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya” (QS Al Kahfi 82)

Yang sering kita tak sadari bahwa apa yang sedang diekspresikan oleh penduduk sebuah negeri merupakan cerminan dari situasi yang berlangsung saat itu. Coba lah kita berpergian ke Aceh zaman sebelum operasi militer dan setelah operasi militer. Sebelumnya orang Aceh adalah memuliakan tamu, mereka selalu memaksa tamunya untuk makan bersama keluarganya, tapi saat berlangsung dan setelah operasi militer. Orang Aceh bagaikan curiga, takut, tertutup dan tidak lagi membiarkan musafir dan orang asing masuk kedalam rumah dan pikiran mereka. Seperti halnya situasi negeri-negeri lain yang berlangsung situasi represif, mereka kemudian menjadi membisu dan kehilangan kegembiraan acara perjamuan.

Musa tidak menyadari bahwa mereka sedang dibawa Kidrh menyusuri lorong-lorong sebuah negeri yang tengah berlangsung sebuah sistem yang lalim, penguasa kapitalisme dan represif. Musa berprasangka negatif bahwa ”dingin”nya masyarakat negeri itu karena adat budayanya memang demikian. Paulo Freire mengatakan bahwa sikap dingin itu adalah ciri masyarakat tertindas, karena situasi represif sehingga masyarakatnya menjadi diam membisu, acuh, tidak partisipatif dan kehilangan hak-hak demokratisnya. Sub merged to the culture of silence.

Musa adalah bekas anak angkat penguasa paling perkasa di zaman itu yaitu Firaun, Musa ditakdirkan membawa sebuah bangsa yang menjadi budak untuk membangun sebuah peradaban. Tentu saja lah Kidrh tidak mengenalkan Musa pada kemewahan Istana tetapi Kidrh mengajarkan Musa pada masyarakat tertindas dan miskin. Kidrh mengajarkan Musa dengan Sistem Pendidikan Hadap Masalah, seperti teori pendidikan Freire untuk masyarakat tertindas pada abad 20 ini.

Kesalahan lain Musa adalah melihat bahwa negeri itu tidak partisipatif sehingga lebih baik mengambil upah saja dan mengabaikan mereka. Kidrh melihat yang lain, yaitu itulah ciri masyarakat tertindas yang mana sesungguhnya mereka adalah kekayaan dan modal semua pembangunan peradaban baru. Lihatlah bagaimana nabi-nabi membangun peradaban dan masyarakat baru mereka, bukankah semua mereka berasal dari golongan yang paling lemah diantara masyarakat mereka. Bukankah penentang-penentang mereka berasal dari bangsawan dan kaum kapitalisme mereka. Kidrh merasa perlu menanamkan investasi untuk berkomunikasi dan memberikan bantuan karitatif sebagai jalan masuknya (entry point).

Simbol masyarakat lemah itu juga adalah adanya anak yatim itu. Selemah-lemahnya anak dalam masyarakat adalah anak yatim. Tapi dari situlah Kidrh menunjuk Musa darimana harus memulai titik perjuangannnya. Anak yatim bisa dikatakan terputus dari pengaruh orang tuanya yang mungkin jadi manusia pragmatis juga karena pengaruh ketertindasannya. Pengaruh selain orang tua tetap saja dipandang sebagai pengajaran orang luar. Begitu juga lah kita dalam membangkitkan harta terpendam dibalik dinding dinding rumah anak yatim itu. Pengalaman saya, sangat sukar bagi kita membangkitkan ide perjuangan para aktifis yang sudah bekerja di alumninya, ataupun yang sudah berkarir di organisasinya. Maka carilah ”anak-anak yatim” itu di sekitar kita, mereka umumnya menjadi ”yatim” karena mereka punya prinsip saleh orang tuanya atau almamaternya sehingga tidak ada yang mau ”mengadopsi” mereka. Didiklah mereka secara konsisten, sehingga harta terpendam yang disebut kesalehan itu menjadi modal dan penggerak utama tamaddun ini.

”Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi), dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir`aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu” (QS Al Qashash 5-6)

2018-10-29T19:52:54+00:00