Hijrah yang terjadi pada 1430 tahun yang lalu adalah suatu memontum dimana terbentuknya suatu komunitas yang dipersatukan dengan tauhid dan iman. Bukan berdasarkan klan, kabilah, suku, bahasa dsb-nya tetapi adalah dengan dasar Islam. Dan itulah kunci membangun peradaban baru.

Banyak yang mengaitkan bahwa Hijrah berkaitan dengan membangun jarak dengan peradaban kafir yang mendominasi. Sehingga pembangunan peradaban baru tersebut tidak diintervensi, diwarnai dan di hegemoni oleh kekuatan-kekuatan yang lebih besar, lebih super power dari masyarakat yang baru memulai membangun peradaban tersebut.

Tapi bagaimana dengan di zaman global ini, dimana akibat tekhnologi komunikasi dan informasi. Jarak sudah tidak lagi menjadi penghalang antar manusia. Semua iklan produk, budaya, sistem sosial, dan politik asing yang tidak Islami disajikan dengan lugasmelalui televisi di rumah-rumah kita? Bagaimana kita dapat membangun “jarak” itu sebagai faktor penting dalam pembangunan peradaban baru itu?

Disekitar tahun 1993 sewaktu saya menjadi Ketua Umum Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam Sumatera Utara, saya sering di undang diskusi oleh Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Medan. Diskusi kami meliputi tentang Peran HMI dalam Gerakan Pro-Demokrasi di Indonesia. Banyak kesesuaian paham diantara kami menyangkut Hak Azasi Manusia dan Rezim Militer Suharto, sehingga setiap saya ada acara di Jakarta saya juga di undang ke Kedutaan Besar Amerika Serikat.

Tetapi pada suatu saat saya bicara bahwa anak-anak HMI walaupun berfaham Suni tetapi sangat mengagumi Ayatullah Ruhullah Khomeini,sehingga foto-foto Sang Imam banyak dipajang di kantor-kantor Cabang di seluruh Indonesia. Saya lupa bahwa itu hal yang sensitif bagi Amerika. Karena mereka didepak secara tidak terhormat dari Iran oleh Revolusi Islam yang digelar Ayatullah Khomeini.

Langsung suasana jadi tegang, karena sebelumnya saya juga mengecam kebijakan “standard ganda” Amerika dalam menangani masalah Bosnia dan Palestina. Rupanya Ibu Konsulat mulai menyadari walaupun saya anti Rezim Suharto dan aktif dalam gerakan Pro-Demokrasi, tetapi saya tetap seorang aktifis Islam.

Lalu Ibu Konsulat berkata “Mengapa orang Islam membenci kami?”, saya ingin sekali menjabarkan bagaimana peran Amerika dibelakang Rezim Shah Pahlevi dalam menindas rakyat Iran dan mengeruk sumber daya alamnya. Tetapi kemudian saya memilih jawaban sebagai berikut, bahwa sesungguhnya Islam itu adalah agama yang disebarkan dengan pesan perdamaian. Jika kemudian terjadi perang itu disebabkan lawan-lawan Islam menampilkan agitasi dan mengancam keutuhan Islam. Sejarah telah menunjukkan bahwa penyebaran agama Islam yang dilakukan dengan damai seperti melalui jalur perdagangan bertahan hingga kini, tetapi yang disebarkan dengan penaklukan akhirnya terusir seperti halnya di Spanyol.

Dimasa kini penyebaran Islam malah lebih unik lagi dan tidak satupun Negara yang mampu mencegahnya. Misalnya seperti penjajahan Negara berpenduduk mayotitas muslim oleh negera-negara Eropa, akan menyebabkan migrasi penduduk Negara terjajah itu ke Negara-Negara penjajahnya di Eropa. Ataupun akibat konflik yang terjadi di Timur Tengah, maka kemudian terjadi migrasi pula ke Negara-Negara Eropa. Mungkin awalnya ada diantara mereka antek-antek penjajah Eropa itu tetapi mereka tetap saja muslim.

Sebagai seorang muslim mereka harus mendirikan shalat Jum’at, oleh sebab itu mereka harus punya mesjid dan harus berjamaa’ah minimal 40 orang. Dan begitu mesjid berdiri mereka harus mendirikan shalat lima waktu di dalamnya. Jadi mulailah tempat itu memiliki seorang ulama untuk mengurusnya, baik azan, shalat, kematian dan ritus-ritus Islam lainnya. Biasanya jika tidak ada ulama dikalangan mereka maka mereka akan memanggil langsung dari negeri mereka.

Kemudian seorang muslim harus mampu membaca Al-Qur’an, karena walaupun dia berbangsa apapun maka bahasa teologi kaum muslimin adalah satu, yaitu bahasa Arab. Jadi selain belajar di sekolah-sekolah umum maka hampir seluruh kaum muslimin akan mengajarkan anak-anaknya dengan bahasa dan tulisan Al-Qur’an, maka oleh sebab itu komunitas muslim akhirnya mendirikan sekolah khusus untuk itu atau yang umum kita sebut madrasah. Dengan adanya mesjid dan madrasah maka mulailah komunitas itu semakin terjaga silaturrahmi-nya. Mereka pun kawin dan berkembang keturunannya.

Dalam hal konsumsi, seorang muslim dilarang makan babi ataupun yang berasal daripadanya, juga hewan-hewan yang disembelih dengan tidak menyebut nama Allah SWT. Seorang muslim juga dilarang mengkonsumsi alkohol atau bahan-bahan yang mengandung alkohol. Sehingga komunitas muslim mau tidak mau harus menyediakan sumber konsumsinya sendiri, sehingga mereka pun harus mendirikan peternakan, pabrik roti, restoran, dan warung kebutuhan sehari-hari. Dalam tahap inimulailah mereka membangun apa yang disebut masyarakat muslim.

Selanjutnya setiap muslimah diwajibkan berjilbab, bahkan beberapa paham/mazhab mewajibkan memakai cadar/purdah. Dengan demikian maka identitas seorang muslimah dengan wanita lainnya menjadi jelas. Lalu masyarakat muslim juga harus mewakafkan tanah untuk kuburan karena kubur seorang muslim wajib menghadap kiblat. Dengan demikian semakin jelas dan terpisahlah urusan kehidupan masyarakat muslim dengan yang non muslim. Dengan semakin jelas identitas mereka maka semakin kuatlah penyebaran Islam dikalangan masyarakat Eropa dan Amerika. Jika pemerintah-pemerintah Negara tersebut melarang seorang muslim menjalankan aturan-aturan fiqh tadi maka seorang muslim diwajibkan ber-jihad melawan kafir harbi (pemerintahan kafir yang menindas). Untuk itu, jika syahid berjihad maka dipastikan masuk surga. Sementara itu mempercayai adanya surga adalah esensi beragama Islam.

“Jika tidak dihambat, maka suatu saat nanti saya harap ibu Konsul tidak terkejut bahwa komunitas muslim akan tumbuh pesat dan menunjukkan eksistensinya di jantung-jantung peradaban Eropa dan Amerika dan akan menuntut otonomi hukum”, demikian saya menutup penjelasan panjang lebar saya itu. Ibu Konsul itu terdiam dan kehilangan minat diskusi. Sejak itu hubungan saya dan perwakilan Amerika merenggang, apalagi sesudahnya anak-anak HMI berdemo di Konjen Amerika—Medan sampai merobohkan pagarnya saat terjadi pembantaian kaum muslim di Mesjid Hebron Palestina.

Alhamdulillah, beberapa bulan kemudian perkataan saya itupun terbukti. Muhammad Lois Farakhan seorang Amerika berkulit hitam memimpin sejuta ummat Islam Amerika melakukan pawai dan long march di New York. Dunia pun terperangah. Di Perancis, jilbab ini kemudian menjadi masalah. Sekolah-sekolah Perancis melarang siswi muslimah-nya memakai jilbab. Karena ini menyangkut fiqh Islam, maka komunitas muslim pun memperotes larangan itu. Anehnya, Prancis yang Negara sekuler kini mulai mencampuri urusan agama.

Kemudian ummat Islam Prancis menuntut peraturan sekolah itu ke Pengadilan itu, dan mereka menang. Lautan jilbab kini mulai menggenangi Perancis. Belum lama, ummat Islam di Perancis mengadakan demo yang kemudian berakhir rusuh. Mereka menuntut persamaan hak untuk mendapatkan pekerjaan dan memprotes diskriminasi. Pemerintah Perancis mengumumkan keadaan darurat, aktiftas sehari-hari menjadi terhenti hampir sebulan lamanya.

Di Amerika, suara ummat Islam mulai diperhitungkan dalam Pemilihan Umum. Para kandidat Kongres dan Presiden mulai berkampanye secara khusus kepada mereka. Al-Quran diletakkan secara resmi oleh Presiden Bush dalam perpustakaan nasional Amerika. Seorang Walikota Amerika dari wilayah yang terkenal dengan Kristen fundamentalis-nya masuk Islam bersama keluarganya. Seluruh warganya mengecam, sang walikota tidak perduli. Anehnya ini malah terjadi setelah peristiwa WTC 911.

Ternyata demikianlah Hijrah yang terjadi dalam abad globalisasi ini. Agama ini berhijrah menusuk di jantung-jantung peradaban para penindasnya. Allah telah membuktikan bahwa hukumNya lah yang benar dan tak terbantahkan. Bahwa dengan kesempurnaan Islam, maka dalam keadaan yang bagaimanapunIslam akan tumbuh dan memajukan peradaban. Pelaksanaan ajaran Islam secara kaffah adalah satu-satunya strategi yang harus kita jalankan, dari unit terkecil yaitu rumah tangga sehingga rumah tangga kita menjadi rumah tangga yang menegakkan tauhid. Rumah tangga yang bertauhid selanjutnya akan membangun masyarakat muslim yang saling melimpahkan rahmat diantara mereka, melimpahkan rahmat pada bumi dan seluruh makhluk yang berada disekelilingnya.

Dalam suatu diskusi di Banda Aceh, mengenai Lembaga Keuangan Mikro berbasis Syariah. Saudara Putra Chamsyah, yang saat itu adalah Kepala Cabang Bank Syariah Mandiri di Banda Aceh mengutip pernyataan dari sebuah buku yang ditulis oleh sosiolog Barat yang artinya kira-kira “Bahwa Agama Islam akan meninggalkan kebodohan dan kemiskinan dan akan berkembang di tempat-tempat yang lebih sejahtera dan maju”. Fenomena ini disebabkan bahwa Barat sekarang mengalami kekeringan rohani, akibat sekulerisme yang mereka dianut. Selama ini etika agama coba mereka ganti dalam bentuk “Family Values”. Dan itu tidak berhasil, generasi muda masyarakat Eropa dan Amerika telah berada ditepi jurang kehancuran akibat narkoba dan sex bebas. Mereka coba kembali ke agama Kristen, tetapi agama tersebut banyak sekali menimbulkan pertanyaan-pertanyaan kritis yang tidak bisa segera terjawab dengan lugas. Misalnya sukar sekali dapat merumuskan siapa “tuhan” yang sebenarnya patut disembah. Konsep kepausan, toleransi terhadap alkohol. Bahkan di Inggris akibat desakan warganya maka diberlakukan undang-undang yang membolehkan perkawinan sesama jenis (homoseksual)

Jadi kemudian orang-orang yang berpendidikan maju melihat Islam sebagai jalan untuk menyelamatkan keluarganya. Mereka melihat dalam Islam bahwa etika seorang anak pada orang tua adalah konsep teologi, wajib dan suruhan agama. Begitu juga semua ajaran Islam seperti larangan minum alkohol, narkoba dan sex bebas. Semuanya berkaitan dengan azab dunia dan perhitungan di hari akhirat. Jadi etika dilakukan bukan karena factor “sebab akibat” tetapi karena takwa kepada Allah SWT. “Keselamatan” adalah konsekuensi logis dari “keimanan”. Bukankah arti kata “Islam”juga adalah “Selamat”. Ternyata dalam menerapkan etika memang harus ada “keimanan”, susah sekali menerapkan etika tanpa dasar keimanan. Karena etis atau tidak etis-nya sesuatu bersifat relative tergantung pada situasi dan kondisi. Tetapi tidak demikian dengan iman, karena Dia bersifat mutlak.

Maka seperti yang telah dalam Surat An Nashr 1-3, “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” Masyarakat Eropa dan Amerika pun berbondong-bondong masuk kedalam Islam. Peristiwa WTC 911 menyebabkan mereka tertarik meneliti apa itu Islam dan Al Quran, setelah mereka meneliti Islam maka mereka pun mendapatkan hidayah dan masuk Islam. Bahkan wartawati TV Inggris (Yvonne Ridley)  yang pernah di sandera Taliban setelah dilepas kembali ke negaranya juga tertarik mempelajari Islam dan kemudian menjadi muslimah malah sekarang menjadi orang yang paling aktif dalam dakwah dan memerdekakan Palestina.

Seperti apa yang sering diulang dalam ayat-ayat Al-Quran, bahwa agama ini untuk orang yang merdeka, berakal dan mau berubah. Dan tidak akan jadi “pencerahan” bagi orang-orang yang terbelengu dalam sistem social, budaya, ekonomi danpolitik nenek moyangnya yang kufur dan zalim. Jadi masyarakat Barat yang berpendidikan maju secara pesat telah masuk kedalam Islam. Dan itu bertolak belakang apada Negara-Negara miskin dan berkembang, yang secara pasti mengalami proses pemurtadan. Kemiskinan dan kebodohan menyebabkan mayoritas masyarakat kita jauh dari Al-Quran dan As-Sunnah. Mereka tidak dapat membaca buku-buku atau media informasi lainnya. Yang sehingga secara pasti akhirnya mereka juga tidak dapat membaca situasi dan alam. Akhirnya keimanan mereka pun ditukar dengan sepotong roti dari missionaris.

Ditahun 2003, Departemen Pertanian RI mengadakan “Muzakkarah Ulama dalam Fiqh Halal Haram bagi Produk Pangan” di Nanggroe Aceh Darussalam. Yang menggelitik saya bukan soal keputusan dan fatwa ulamanya, tetapi adalah kenapa Departemen Pertanian yang menjadi penyelenggaranya. Dan itu kemudian saya tanyakan kepada pejabat yang melaksanakannya.

Dia menjawab bahwa dalam akibat adanya hukum Halal Haram Pangan dalam fiqh Islam mempunyai kosekuensi tentang proteksi peternakan di Indonesia terhadap serbuan impor daging ayam dan sapi dari Negara-Negara seperti Amerika dan Australia. Misalnya pada saat itu sedang direncanakan impor sayap dan paha ayam dari Amerika. Padahal di Negara asalnya itu merupakan adalah limbah yang harus dibuang. Pasalnya di sayap dan dipaha itulah tempat ayam-ayam disuntik dengan vaksin dan vitamin. Dikhawatirkan merupakan bagian yang paling banyak memiliki residu. Sehingga ogah dikonsumsi oleh public Amerika.

Jika impor itu terjadi maka harga ayam pedaging di dalam negeri akan jatuh, dan diperkirakan tidak sedikit peternak ayam akan gulung tikar. Jadi dengan ketidak jelasan proses penyembelihan ayam-ayam tersebut di Negara asalnya juga adanya fatwa haram terhadap pangan yang mengandung racun atau merugikan kesehatan akan menyebabkan ummat Islam menolak import tersebut. Fatwa ulama ini juga dapat dipergunakan untuk dasar hukum bagi Pemerintah atau masyarakat dalam memeriksa semua industri pengolahan makanan. Jadi dengan penerapan fiqh Islam dapat dijadikan sebagai pertahanan Negara Indonesia dalam menghadapi serbuan produk-produk asing di zaman global ini. Demikian kata si pejabat sahabat saya itu.

Maksud si pejabat kelas rendahan itu rupanya tercium oleh sang menteri, yang juga adalah arsitek pengimport limbah ayam itu. Si pejabat ini kemudian dipindahkan ketempat yang dia tidak bisa bergerak-gerak lagi, dan impor limbah ayam itu terus berlangsung hingga kini. Bagi saya, si pejabat kita itu telah berjihad. Dan yang lebih lagi telah memberikan makna baru bagi saya dan kawan-kawan dalam berhijrah dan berjihad.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS AL-Baqarah 218). Kesimpulan tulisan ini adalah seperti dikemukakan dalam ayat diatas. Bahwa terlebih dahulu kita harus beriman, menjadikan ketakwaan kepada Allah SWT sebagai asal dan tujuan dalam hidup kita. Kemudian kita berhijrah, ketempat-tempat yang kita dapat membangun masyarakat dan mendidik anak-anak kita dalam ajaran Islam. Berhijrah juga berarti kita meninggalkan semua system yang tidak diperintahkan oleh Allah SWT dan memakai system yang sesuai dengan syariat Islam. Yang paling penting diingat bahwa pada peristiwa Hijrah Rasulullah SAW, sesampainya beliau di Yastrib/Madinah maka yang pertama sekali beliau dirikan adalah Masjid.

Masjid Nabawi itu kemudian yang menjadi pusat dari seluruh aktifitas kenabian. Maka hijrah kita dalam kampung global ini adalah kembali ke Mesjid, artinya kembali menjadikan Mesjid sebagai pusat aktifitas komunitas kita. Di mesjid kita tidak hanya sekedar mendirikan shalat jum’at atau shalat lima waktu. Sebaiknya di mesjid dapat berfungsi sebagai pusat aktifitas remaja, pengajian dasar buat anak-anak (TPA), perpustakaan, pemberantasan buta huruf Al-Qur’an, mendorong pengumpulan zakat, infaq dan sedekah lalu menjadi pusat pemberdayaan bagi kaum dhuafa dilingkungan/komunitas mesjid tersebut. Barulah kemudian kita berjihad, yaitu berjuang dan bergiat agar syariat Islam ini menjadi dasar dalam membangun suatu yang peradaban yang saling merahmati dan membawa keselamatan bagi semua makhluk.

2018-10-29T19:57:35+00:00